Oleh: Kang Rusdi | Februari 9, 2010

Rambu-rambu Kemudahan

Rambu-rambu Kemudahan Kemudahan, sebagai salah satu karakter utama agama Islam, ternyata bak pisau bermata dua. Di satu sisi, ia membuat ajaran agama ini bisa dengan mudah membumi dan bersenyawa dengan berbagai budaya, model masyarakat, dan zaman yang berbeda-beda.

Namun, di sisi lain, ia sering dipergunakan untuk melegitimasi sikap-sikap yang permisif, bahkan aliran-aliran sesat. Foto mesra prewedding, nikah sesama jenis, shalat dengan bahasa Indonesia, adalah segelintir contoh yang hendak dilegalkan oleh sebagian kalangan dengan dalih Islam itu mudah, Islam tidak kaku, dan seterusnya.

Oleh karena itu, demi menjaga karakter kemudahan ini tetap dalam koridor yang sahih, ada beberapa rambu yang penting untuk dicermati. Pertama, penerapan kemudahan tersebut harus memiliki referensi dari Alquran atau sunah Rasul SAW.

Salah satu contoh terbaiknya adalah apa yang dilakukan Abdullah bin Abbas RA, ketika menyuruh petugas azan mengganti Hayya ala ash-Shalah dengan Shallu fi buyutikum (shalatlah di rumah kalian masing-masing), karena saat itu turun hujan deras menjelang pelaksanaan shalat Jumat.

Mendengar azan `gaya baru’ tersebut, sontak beberapa Tabi’in memprotes, `’Apa-apaan ini, hai Ibnu Abbas?” Ia pun menjawab, `’Saudara-saudaraku, kemudahan seperti ini bukan hasil buatanku.
Inilah yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW.” (HR Bukhari dan Muslim).

Kedua, setiap penerapan kemudahan seyogianya diselaraskan dengan tujuan-tujuan syariat dan kemaslahatan manusia. Syariat Islam memang tidak kaku, khususnya di ranah ibadah dan muamalah. Namun, memaksakan kemudahan secara kebablasan dengan mengabaikan tujuan-tujuan syariat, niscaya akan membuat yang bersangkutan semakin jauh dari Allah.

Keselarasan antara kemaslahatan individu dan tujuan syariat ini sering dicontohkan langsung oleh Nabi SAW. Misalnya, beliau pernah membebaskan seorang sahabat yang sudah tua dan lemah dari nazarnya untuk naik haji dengan berjalan kaki dari Madinah ke Makkah. Sebab, selain berpotensi membahayakan kesehatan yang bersangkutan, nazar tersebut sama sekali tidak berkaitan dengan tujuan-tujuan disyariatkannya haji.

Sebaliknya, bila kemudahan tersebut sekadar meluluskan kepentingan tertentu dan bukan dalam situasi darurat, tidak ada alasan untuk melakukannya. Seperti, penduduk daerah Yaman yang meminta kepada Nabi SAW agar diperbolehkan memproduksi arak yang selama ini menjadi sumber penghasilan mereka. `’Tidak! Semua yang memabukkan adalah haram,” kata beliau menegaskan.
(HR Bukhari dan Muslim)

adapted from hikmah republika 09 feb 2010Membumikan Islam

Oleh: Kang Rusdi | Februari 9, 2010

Menghilangkan kesedihan,

Manusia mana yang tak pernah sedih, siapapun kita pasti pernah bersedih, karena jangankan kita, Nabi kita saja, Muhammad yang mulya (moga sholawat dan keselamatan tercurah padanya) pernah mengalami kesedihan yang sangat, yaitu ketika beliau ditinggal mati oleh Khadijah, isteri yg paling dicintainya, dan paman beliau Abu Thalib.

Pertanyaan yang sering muncul diantara kita adalah, “Bisakah kesedihan itu hilang dengan sekejap?” hmm.., karakter kita manusia, selalu menginginkan segalanya dengan cepat dan terburu-buru.

Alhamdulillahnya Allah faham betul karakter kita ini, hingga hal itu bisa kita lakukan. Akan tetapi, hal ini memerlukan syarat yang harus dipenuhi, agar setiap dzikir yang terucap dan do’a yang dilantunkan didengar dan terwujud karena kehendak Allah SWT.

Syarat itu adalah kenyakinan yg haqqul yakin dan sebuah keikhlasan, kenyakinan adalah barang langka yg tidak dimiliki oleh setiap individu muslim sekalipun, hingga ia senantiasa merasa jauh dari rahmat Allah, karenanya tumbuhkan rasa yakin itu dalam hati kita. Syarat yg lain adalah keihklasan, ikhlas adalah syarat diterimanya amal kita oleh Allah SWT, tiada tujuan lain dalam setiap amal kita kecuali hanya karena dan untuk Allah SWT.

Dibawah ini adalah do’a yang saya maksud, yang bisa di dapat dari Kitab Al-Adzkar An-Nawawi, Munajatkan do’a ini dengan dengan penuh keikhlasan disertai keyakinan bahwa Allah akan mengangkat rasa sedih kita,

اللِّهُمَّ إنِّي عَبْدُكَ ،
ابْنُ عَبْدِكَ ، ابْنُ أَمَتِكَ ، نَاصِيَتِي بِيَدِكَ ، مَاضِ فِيَّ حُكْمُكَ ، عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ ، أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ ، سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ ، أَوْ أنْزَلْتَهُ فِي كِتَاَبِكَ ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ ، أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ ، أنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيعَ قَلْبِي ، وَ نُورَ صَدْرِي ، وَ جَلاءَ حُزْنِي ، وَ ذَهَابَ هَمِّي

Allahumma inni ‘abduka, ibnu ‘abdika, ibnu amatika, naasiyati biyadika, maadhin fiyya hukmuka, ‘adhlun fiyya qadha’uka asaluka bi kulli ismin huwa laka, sammaita bihi nafsaka, aw an-zaltahu fi kitabika, aw’allamtahu ahadan min khalqika, awista’tharta bihi fi ‘ilmil-ghaibi ‘indaka, an taj’alal-Qur’ ana Rabbi’a qalbi, wa nura sadri, wa jalaa’a huzni, wa dhahaba hammi

Artinya:

“Ya Allah Sesungguhnya aku ini adalah hamba, anak dari hamba-Mu laki-laki, anak dari hamba-Mu perempuan. Ubun-Ubunku berada di tangan-Mu, mengikuti keputusan takdir-Mu dan berjalan sesuai dengan ketetapan-Mu. Aku memohon kepada-Mu dengan setiap nama yang menjadi milik-Mu, Nama yang Engkau lekatkan sendiri untuk diri-Mu, atau Engkau sebutkan dalam kitab-Mu, atau Engkau ajarkan kepada salah seorang di antara hamba-Mu (Nabi), atau Engkau sembunyikan di alam keghaiban-Mu, hendaknya Engkau menjadikan al Qur’an ini sebagai penyejuk hatiku, cahaya dalam dadaku, penghilang kesedihanku dan penolak rasa gundahku.”

(HR Ahmad, Ibn Hibban)

Mudah-mudahan senantiasa membawa manfaat untuk seluruh umat, Wallahu muwaffiq Ilaa Aqwamitthariq,

Jakarta, Jum’at 20 Shafar 1431
My lovely qur'an

Oleh: Kang Rusdi | Februari 8, 2010

Ketika harus memilih

Dalam hadis Bukhari, Jabir bin Abdullah berkata :

“Rasulullah SAW mengajarkan kami istikhoroh dalam semua perkara sebagaimana beliau mengajari kami surat al-Quran, beliau bersabda: Apabila salah seorang dari kamu berkepentingan terhadap suatu urusan, maka hendaklah ia melakukan sholat dua rakaat yang bukan fardhu, kemudian berdoa : “Allahumma inni astakhiruka bi’ilmika wa astaqdiruka biqudratika wa as’aluka min fadhlikal ‘azim, fainnaka taqdiru wala aqdiru wa ta’lamu wala a’lamu wa anta ‘allamul guyub. Allahumma inkunta ta’lamu anna hazal amra khoirun li fi diini wama’asyi wa ‘aqibati amri faqdurhu li wayassirhu li tsumma barikli fihi. Wainkunta ta’lamu anna hazal amra syarrun li fi diini wama’asyi wa ‘aqibati amri fashrifhu ‘anni, washrifni ‘anhu, waqdurliyal khoira haitsu kaana tsumma radhdhini bihi. (Ya Allah, sesungguhnya aku memohon pilihan kepadaMu dengan ilmuMu, dan aku memohon kemampuan kepadaMu dengan kekuasaanMu, dan aku memohon sebagian dari karuniaMu yang agung. Karena sesungguhnya Engkaulah yang berkuasa sedang aku tidak berkuasa. Engkaulah yang mengetahui sedang aku tidak mengetahui, dan Engkaulah yang Maha Mengetahui perkara-perkara gaib. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa hal ini baik bagiku dalam agamaku dan kehidupanku serta akibat urusanku, maka tentukanlah ia untukku dan mudahkanlah ia bagiku, kemudian berilah aku berkah padanya. Dan jika Engkau mengetahui bahwa hal itu jelek bagiku dalam agamaku dan kehidupanku serta akibat urusanku, maka palingkanlah ia dariku dan palingkanlah aku darinya, dan tentukanlah untukku kebaikan di mana saja ia berada, kemudian jadikanlah aku ridho kepadanya).”

Meminta kepada Allah untuk memilihkan yang terbaik untuk kita adalah suatu kemestian, karena Allah Maha Kuasa dan Maha Mengetahui. Tapi pada kenyataannya jarang sekali kita menjadikan Allah sebagai rujukan utama dalam menentukan pilihan kita.

Maka penggalan hadits diatas mudah-mudahan mampu mengingatkan kita akan apa yang semestinya kita lakukan..,

Moga Allah senantiasa memberikan hidayahnya untuk kita -hamba-hambaNya-.., Amien Ya Rabb..,Hati yg terjatuh

Oleh: Kang Rusdi | November 12, 2009

Kerja adalah Ibadah

Islam adalah agama Tauhid. Berkeliling di sekitarnya aneka kesatuan yang lahir dari keyakinan, yang bila ia dilepaskan darinya, maka terlepas pula ia dari ajaran Tauhid. Itu tak ubahnya matahari yang berkeliling di sekitarnya serta berada di bawah daya tariknya planet-planet tatasurya, yang bila terlepas dari daya tarik itu, planet tersebut akan hancur berantakan.

Kesatuan dunia dan akhirat adalah salah satu aspek dari Tauhid. Apa yang dilakukan di dunia itulah yang ditemukan di akhirat. Karena itu tidaklah tepat menyatakan bahwa ada amal duniawi dan ada pula amal akhirat. Karena keduanya merupakan mata uang dengan dua wajah. Ibadah dan kerjapun sesungguhnya harus merupakan satu kesatuan. Karena itu pekerjaan apapun yang dilakukan penganut Tauhid, dapat menjadi ibadah yang dia peroleh ganjarannya, bukan saja di di dunia, tetapi juga bahkan lebih-lebih di akhirat.

Kerja didefiniskan sebagai penggunaan daya. Manusia secara garis besar dianugerahi Allah empat daya pokok, yaitu Daya Fisik, yang menghasilkan kegiatan fisik dan keterampilan, Daya Fikir yang mendorong pemiliknya berfikir dan menghasilkan ilmu pengetahuan, Daya Kalbu yang menjadikan manusia mampu berkhayal, mengekspresikan keindahan, serta beriman dan merasakan serta berhubungan dengan Allah Sang Pencipta, dan Daya Hidup yang menghasilkan semangat juang, kemampuan menghadapi tantangan, serta menanggulangi kesulitan.

Penggunaan salah satu dari daya-daya tersebut – betapapun sederhananya – melahiran kerja, atau amal. Anda tak dapat hidup tanpa menggunakan – paling sedikit salah satu dari daya itu. Untuk melangkah, Anda memerlukan daya fisik, paling tidak guna menghadapi daya tarik bumi.

Karena itu, kerja adalah keniscayaan. Selanjutnya kare-na tujuan penciptaan manusia adalah menjadikan seluruh aktivitasnya ber-mula dan berakhir dengan beribadah kepada Allah [QS 51:56], maka seluruh penggunaan dayanya harus merupakan ibadah kepada-Nya. Ibadah bukan sekedar ketaatan dan ketundukan, tetapi ia adalah satu bentuk ketundukan akibat adanya rasa keagungan dalam jiwa seseseorang terhadap siapa yang kepadanya ia mengabdi.

Seorang pengabdi tidak mencapai hakikat pengabdian kecuali jika ia tidak menganggap apa yang berada dalam genggaman tangannya sebagai miliknya tetapi milik siapa yang kepadanya dia mengabdi. Segala usahanyapun hanya berkisar pada mengindahkan apa yang diperintahkan kepadanya serta tidak memastikan sesuatu untuk dia laksanakan kecuali mengaitkannya dengan izin dan restu siapa yang kepadanya dia mengabdi.

Ibadah adalah kerja dan kerja adalah ibadah tetapi perlu diingat bahwa kerja atau amal yang dituntut-Nya bukan asal kerja, tetapi kerja yang shaleh atau amal shaleh. Shaleh adalah sesuatu yang bermanfaat lagi memenuhi syarat-syarat dan nilai-nilainya. Menggunakan salah satu dari daya-daya tersebut di atas selama shaleh dan dengan motivasi yang tulus mengikuti tuntunan Allah, maka apa yang dikerjakan itu telah menjadi ibadah. Karena itu Anda dapat beribadah kapan dan di manapun. Nabi Muhammad saw menegaskan salah satu keistimewaan ajaran Tauhid adalah “Allah menjadikan persada bumi ini sebagai mesjid dan penyucian”.

Anda tidak perlu berkata seperti yang konon diucapkan oleh filsuf Jerman, Emmanuel Kant, “Saya terpaksa menghentikan penelitian ilmiah agar menyediakan tempat dalam hatiku untuk percaya atau beribadah”. Yang diajarkan Al-Qur’an untuk diucapkan sekaligus difahami dan diamalkannya adalah: “Sesungguhnya shalatku, ibadah[murni]ku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam” [QS 6:162].

Di sisi lain kitab suci Al-Qur’an tidak memberi peluang bagi seorang muslim untuk berleha-leha dalam hidup ini, karena itu: “Maka apabila engkau telah berada di dalam keluangan [setelah tadinya engkau sibuk], maka [bersungguh sungguhlah bekerja] sampai engkau letih, atau tegakkanlah [persoalan baru] sehingga menjadi nyata”.

Demikian pesan QS 94:7. Karena itu waktu harus dihargai dengan mengisi dan memanfatkannya. Ali Ibnu Abi Thalib r.a. mengingatkan bahwa “Rezeki yang tidak diperoleh hari ini, masih dapat diharapkan perolehannya lebih banyak, esok hari. Tetapi waktu yang berlalu hari ini, tidak mungkin kembali esok”. Demikian, Wa Allah A’lam.

« adapted from alif mag’z

Oleh: Kang Rusdi | November 12, 2009

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.